CIANJURPOST.COM – Sejak matahari belum terbit, aktivitas Sapriwal sudah dimulai. Pria berusia 65 tahun itu menyiapkan dagangannya di sekitar Tugu Ayam Pelung, Jalan Dr Muwardi, Kabupaten Cianjur.
Bukan seorang barista, Sapriwal hanya mengandalkan keterampilan meracik kopi secara sederhana untuk melayani pembeli yang datang silih berganti.
Pelanggan Sapriwal pun cukup beragam. Mulai dari warga, pedagang pasar, tukang ojek, hingga petugas Dinas Perhubungan dan anggota kepolisian yang bertugas mengatur lalu lintas di sekitar lokasi.
Menurut Sapriwal, para petugas bahkan kerap menjadi pelanggan tetap yang membeli kopi, minuman, rokok hingga es.
“Disuruh petugas Dishub dan polisi mangkal di sini, malah mereka jadi langganan. Biasanya beli kopi, minuman lainnya, rokok dan es,” ujar Sapriwal, Kamis (24/9/2026).
Warga Gang Banjar tersebut mengaku sudah menjalani usaha berjualan kopi di kawasan itu selama sekitar enam tahun.
Setiap hari, ia mulai berjualan sejak subuh dan baru meninggalkan lapaknya ketika hari sudah siang.
Penghasilannya tidak selalu sama. Saat pembeli sepi, Sapriwal mengaku bisa membawa pulang sekitar Rp70 ribu. Namun ketika kondisi ramai, pendapatannya dapat mencapai Rp100 ribu lebih.
Bahkan saat peresmian Tugu Ayam Pelung, pendapatannya pernah mencapai sekitar Rp300 ribu dalam sehari.
“Penghasilan sehari-hari enggak menentu. Kalau lagi sepi sekitar Rp70 ribu, kalau ramai Rp100 ribu ke atas. Waktu peresmian Tugu Ayam Pelung malah pernah sampai Rp300 ribu,” katanya.
Bagi Sapriwal, kehadiran Tugu Ayam Pelung yang menjadi salah satu daya tarik baru di kawasan tersebut membawa berkah tersendiri.
Semakin banyak masyarakat yang datang untuk melihat maupun berswafoto di sekitar tugu, semakin terbuka pula peluang bagi pedagang kecil seperti dirinya untuk mendapatkan pembeli.
Sebelum berjualan kopi, Sapriwal sempat menjalani usaha berjualan jamu di sebuah lapak kios. Menurutnya, berjualan kopi di sekitar tugu kini cukup membantu perekonomian keluarganya.
Sapriwal merupakan ayah dari enam anak. Bersama istrinya, Olisoh, ia terus berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dari penghasilan sehari-hari.
Bukan hanya untuk kebutuhan rumah tangga, hasil berjualan kopi juga digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Anak bungsunya bahkan baru saja menyelesaikan pendidikan di tingkat SMK.
“Alhamdulillah, dari jualan ini bisa membantu kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anak,” tuturnya.
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Sapriwal masih tetap bersemangat menjalani rutinitasnya. Baginya, lapak sederhana di sekitar Tugu Ayam Pelung bukan sekadar tempat berjualan.
Di tempat itulah ia mencari penghasilan dengan cara yang halal, sekaligus mempertahankan kemandirian untuk keluarganya.
Enam tahun berlalu, Sapriwal tetap setia dengan termos, gelas, kopi dan dagangannya. Di tengah perubahan zaman dan hadirnya generasi muda, semangat pria 65 tahun itu menjadi gambaran bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berusaha.(cp)

