Infrastruktur Umum
Home » Berita » Tidak ada Jembatan Warga Sebrangi Sungai Gunakan Rakit

Tidak ada Jembatan Warga Sebrangi Sungai Gunakan Rakit

CIANJURPOST.COM – Ratusan warga di Desa Sukamahi, Kecamatan Cijati, serta Desa Neglasari dan Desa Talagasari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi Sungai Cibuni yang berarus deras menggunakan rakit.

‎Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun setelah jembatan penghubung rusak diterjang banjir.

‎Setiap hari, para siswa SMA dan MTS harus menumpang rakit untuk berangkat maupun pulang sekolah. Selain menjadi akses pendidikan, rakit yang dibuat sederhana itu juga menjadi jalur vital bagi warga yang bekerja, berdagang, hingga bertani.

‎Sungai Cibuni yang memiliki lebar sekitar 125 meter itu dilalui warga setiap hari karena akses jalan alternatif terlalu jauh, bahkan mencapai 10 kilometer. Untuk sekali menyebrang, warga membayar seikhlasnya kepada penjaga rakit yang juga merupakan warga sekitar.

‎Sella, siswi salah satu SMA yang sudah tiga tahun menggunakan rakit, mengaku sudah terbiasa melawan derasnya arus sungai demi sampai di sekolah.

Geger! Ular Sanca Dua Meter Masuk Permukiman Warga Maleber Cianjur, Sempat Bergulat dengan Kucing

‎”Iya setiap hari dan nggak takut karena sudah terbiasa naik rakit. Ada akses jalan lain tapi jauh muter, jadi mending lewat sini,” ujarnya, Kamis (4/12/2025).

selengkapnya  Rumah Nenek Encih Dibangun Kembali, Polisi dan Warga Turun Tangan

‎Ia mengaku sering melepas sepatu agar tidak basah. Jika debit sungai naik, ia terpaksa menempuh jalur alternatif yang lebih jauh hingga 10 kilometer.

‎”Dari tahun 2020 saya sudah naik rakit karena jembatannya rusak diterjang banjir,” katanya.

‎Hal serupa dialami Atep (35), warga Kampung Parabon, Desa Talagasari, yang harus menyeberang menggunakan rakit untuk bekerja setiap hari, bahkan sambil membawa sepeda motor.

‎”Iya kerja jadi harus naik rakit setiap hari. Motor juga ikut dinaikin meskipun arus sungai cukup deras,” ungkapnya.

Bawaslu Kabupaten Cianjur Resmikan Mediation Clinic, Upaya Pencegahan Sengketa Pemilu

‎Ia mengaku takut, tetapi tidak memiliki pilihan lain. “Kalau melihat takut ya takut, tapi kondisi seperti ini mau gimana lagi,” tambahnya.

‎Wakil Kepala Sekolah Madrasah Aliyah (MA) Bojong Jati, Edi Wahyu, menjelaskan bahwa jembatan tersebut rusak sejak 2021 akibat banjir besar yang menyebabkan pohon tumbang dan menggerus pondasi.

‎”Airnya waktu itu besar sekali, banjir sampai merusak jembatan,” katanya.

‎Menurutnya, kerusakan jembatan membuat aktivitas pendidikan terganggu. Banyak siswa terpaksa terlambat atau tidak masuk sekolah karena akses terputus.

selengkapnya  Panen Bersama dalam Rangka Kerja Sama Antar Daerah DKI Jakarta dan Kabupaten Cianjur

‎”Kalau memaksakan lewat rakit, sampai sekolah bisa satu jam. Ada yang naik motor, ada yang jalan kaki. Tapi kalau pas banjir, kami kasih izin untuk tidak sekolah karena berbahaya,” jelasnya.

Pisah Sambut Bhabinkamtibmas Desa Sukamulya, Pemdes Sampaikan Apresiasi kepada Aipda Tommy Hidayat dan Sambut Aiptu Ahmad Satibi

‎Warga berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan penghubung tersebut agar akses pendidikan dan perekonomian masyarakat di dua kecamatan itu dapat kembali berjalan aman dan lancar. Mereka menegaskan bahwa kondisi ini sudah terlalu lama dibiarkan dan semakin membahayakan keselamatan warga.

‎

‎