CIANJURPOST.COM – Ratusan hektar sawah milik warga di Desa Nanggalamekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengalami gagal panen.
Sawah yang sudah memasuki masa panen tersebut diserang ribuan burung selama dua pekan terakhir, sehingga bulir yang masih berkulit ari habis dimakan dan menjadi kosong.
Serangan burung terjadi hampir setiap hari, terutama pada sore hari. Ribuan burung secara bergerombol turun menghabiskan butir padi yang sudah menguning dan siap dipanen.
Seorang petani, Teten Sopiandi (45), warga Kampung Pasir Angin, mengatakan sawah miliknya mengalami gagal panen total tidak sedikitpun padi tersisa yang dimilikinya. Selain diserang burung, tanaman padinya juga terserang penyakit.
“Kondisinya benar-benar gagal total atau puso. Satu butir pun hampir tidak ada yang tersisa. Padahal rencananya mau panen musim ini,”terang teten.
ia menjelaskan, dalam kondisi normal satu hektar sawah miliknya bisa menghasilkan tujuh hingga delapan ton gabah. Namun akibat serangan burung dan penyakit, hasil panen yang diperoleh hanya sekitar satu kuintal.
“Biasanya bisa dapat tujuh sampai delapan ton per hektar, sekarang paling cuma satu kuintal, itu juga sedikit sekali,” katanya.
Menurutnya, serangan burung mulai terjadi saat usia tanaman padi memasuki 45 hari tanam hingga menjelang panen. Burung-burung tersebut datang dalam jumlah banyak dan terdiri dari berbagai jenis.
“Burungnya ribuan, biasanya datang sore hari. Ada burung pipit dan ada juga burung yang kepalanya putih,”tandasnya
Sementara itu hal serupa di katakan Ketua Kelompok Tani Kampung Pasir Angin, Ikin Sodikin, menyebut serangan burung kali ini merupakan yang terparah dan baru pertama kali terjadi secara meluas di musim tanam ini.
“Kalau musim-musim sebelumnya tidak pernah seperti ini. Paling juga lokal, tapi sekarang hampir menyeluruh,” ujarnya.
Ikin menambahkan, total sawah yang terdampak mencapai sekitar 120 hektar. Sawah yang diserang tidak hanya yang siap panen, tetapi juga sawah yang masih satu minggu menjelang panen.
“Ada petani yang punya satu hektar, ada juga yang sampai 13 hektar. Ada yang sudah gagal panen total, ada juga yang masih bisa diselamatkan tapi hasilnya sangat sedikit,” katanya.
Akibat kejadian tersebut, para petani mengalami kerugian cukup besar. Modal tanam per hektar diperkirakan mencapai Rp15 juta.
“Kalau satu hektar saja modalnya bisa sampai Rp15 juta. Apalagi yang garap lebih dari satu hektar, jelas kerugiannya besar,” ucap Ikin.
Untuk meminimalisir kerugian lebih lanjut, para petani kini melakukan pemasangan jaring di area sawah di atas padinya agar tidak dimakan burung.
“Petani terpaksa pasang jaring lagi, tapi ini menambah biaya. Satu jaring harganya Rp60 ribu, dan untuk setengah hektar saja butuh sekitar delapan jaring,” pungkasnya.
Kondisi ini menjadi keluhan masyarkat disekitarnya karena menjadi berkurangnya hasil padi yang mereka panen untuk di perjual belikan, dengan ini warga tidak berharap banyak dan hanya bisa pasrah dengan kejadian karena mungkin faktor alam namun berharap semoga ada perhatian kusus dari pihak terkait.( GE )

