CIANJURPOST.COM – Perajin kolang kaling di Kampung Kedunghilir, Desa Sukamanah, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, meraup keuntungan cukup besar selama bulan suci Ramadan.
Permintaan yang meningkat untuk kebutuhan takjil dan hidangan berbuka puasa membuat penjualan kolang kaling mengalami lonjakan dibanding hari biasa.
Salah seorang perajin, Sayuti, mengatakan sejak awal Ramadan pesanan kolang kaling yang diproduksinya terus berdatangan.
“Kalau bulan puasa penjualan bisa meningkat karena banyak yang beli, tapi kalau bulan-bulan biasa ya biasa saja,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Dalam sehari, Sayuti mampu memproduksi sekitar satu kuintal kolang kaling. Hasil produksinya tersebut biasanya dijual langsung dari rumahnya kepada pedagang pasar maupun warga yang datang membeli.
“Biasanya dijual di sini saja, nanti pedagang pasar yang datang beli ke sini, atau warga yang datang langsung,” jelasnya.
Menurutnya, usaha produksi kolang kaling di kampung tersebut sudah berlangsung secara turun-temurun sejak lama. Namun saat ini ketersediaan bahan baku dari pohon aren di wilayah setempat mulai berkurang, sehingga para perajin harus mencari bahan ke daerah lain.
“Di sini sudah lama turun-temurun, tapi sekarang bahannya sudah sedikit, jadi kita cari ke tempat lain, seperti ke wilayah Cipanas,” katanya.
Proses pembuatan kolang kaling pun terbilang cukup panjang. Biji buah aren terlebih dahulu direbus selama satu hingga dua jam. Setelah itu dikupas dan dicuci bersih, kemudian ditumbuk, dicuci kembali, dan direndam selama tiga hari hingga siap dijual.
Meski permintaan meningkat saat Ramadan, Sayuti mengaku produksi tahun ini sedikit menurun akibat terbatasnya bahan baku.
“Tahun ini memang ada penurunan karena barangnya tidak banyak, jadi proses produksi sedikit terganggu dan berkurang,” terangnya.
Kolang kaling biasanya diolah menjadi manisan, campuran kolak, hingga sirup untuk takjil berbuka puasa. Untuk harga, Sayuti menjual kolang kaling Rp10 ribu per kilogram dari tempat produksinya. Sementara di pasar, harga bisa mencapai Rp15 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram.
“Dari sini saya jual Rp10 ribu, tapi kalau sudah di pasar bisa Rp15 sampai Rp17 ribu per kilo,” jelasnya.
Dari hasil penjualan tersebut, ia bisa meraup pendapatan sekitar Rp500 ribu per hari. Ia pun optimistis penjualan akan semakin meningkat menjelang pertengahan Ramadan hingga Lebaran.( GE )

