CIANJURPOST.com — Kondisi bangunan Sekolah Dasar Karyamukti yang berada di Kampung Cibalukbuk, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, memprihatinkan. Sebanyak 52 siswa terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di bangunan yang retak, bocor, tanpa penerangan memadai, bahkan tanpa fasilitas toilet, Jum’at (10/4/26).
Akibat tidak adanya toilet, para siswa terpaksa buang air ke sungai yang berada di sekitar sekolah.
Bangunan sekolah yang tersisa hanya memiliki empat ruangan. Dari jumlah tersebut, satu ruangan digunakan sebagai kantor, satu ruangan dipakai untuk kegiatan belajar mengajar tiga kelas sekaligus, sementara ruangan lainnya juga difungsikan sebagai gudang penyimpanan kursi dan peralatan sekolah.
Guru kelas V, Elian Syahudin, mengatakan kondisi bangunan sekolah sudah terjadi sejak tahun 2021 pasca gempa Cianjur. Menurutnya, kerusakan semakin parah akibat adanya pergeseran tanah.
“Awalnya ada empat lokal. Satu lokal untuk kantor, satu lokal untuk ruang belajar, dan satu lokal lagi sudah tidak bisa digunakan. Kekhawatiran kami, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan karena kondisi sekolah memang sudah tidak layak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pondasi bangunan yang kini mulai miring diduga akibat dampak gempa bumi dan pergeseran tanah yang terjadi setelahnya.
“Kondisi pondasi yang miring ini kemungkinan besar akibat pergeseran tanah dan gempa waktu lalu. Tentunya kami sangat khawatir terhadap keberadaan bangunan sekolah, apalagi kegiatan pembelajaran menjadi kurang efektif,” katanya.
Pihak sekolah, lanjut Elian, sebenarnya sudah beberapa kali mengajukan permohonan perbaikan kepada pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cianjur, termasuk saat rapat kepala sekolah pada November tahun lalu.
“Kami berharap pemerintah daerah dan Disdikpora Kabupaten Cianjur lebih mengutamakan skala prioritas untuk pembangunan sekolah ini,” ucapnya.
Saat ini SD Karyamukti memiliki **52 siswa, dengan 6 tenaga pendidik dan 1 kepala sekolah.
Elian juga mengaku pihak dinas sempat meninjau langsung kondisi bangunan sekolah. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut nyata.
“Dari dinas sudah pernah datang dan melihat langsung kondisi bangunan kami yang cukup mengkhawatirkan, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” tambahnya.
Kondisi ini pun memicu kekhawatiran dari orang tua murid, terutama saat musim penghujan. Selain atap yang bocor, retakan bangunan membuat proses belajar mengajar tidak bisa berjalan maksimal.
“Kami sering mendapat keluhan dari orang tua murid. Mereka khawatir, apalagi kalau musim hujan. Untuk pembelajaran tetap kami upayakan berjalan normal, kecuali saat cuaca buruk,” jelasnya.
Sementara itu, dua siswi kelas VI, Denia dan Sella, mengaku takut jika bangunan sekolah roboh, terutama saat hujan turun.
“Kalau hujan suka bocor, terus takut bangunannya roboh. Belajarnya juga digabung sama kelas lima. Mudah-mudahan segera dibangun,” ujar mereka.
Pihak sekolah berharap pemerintah segera turun tangan agar para siswa bisa belajar dengan aman dan nyaman tanpa dihantui rasa takut.(GE)

